DZIKIR MENGINGAT ALLAH DALAM KEGIATAN SEHARI HARI


PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPDzikir mengingat Allah merupakan kegiatan utama yang seharusnya kita lakukan dalam kegiatan kita sehari hari. Namun banyak diantara kita yang tidak menyadari hal tersebut . Setiap saat hati dan fikiran kita hanya dipenuhi oleh berbagai masalah kehidupan dunia. Mulai dari masalah pekerjaan, masalah keluarga, wanita atau pria idaman hati, tekanan dan problem hidup , trauma masa lalu dan lain sebaginya. Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk berdialog dan berdzikir mengingat Allah, bahkan kadang kala tidak ada tempat sama sekali didalam hati dan fikiran untuk berdzikir mengingat Allah.
Sebagian besar menusia tertipu oleh kehidupan dunia.Mereka tertipu oleh kesombongan dirinya, mereka merasa bangga dan takjub dengan kemampuan dirinya, mereka merasa tidak butuh pada Allah. Mereka merasa mampu mengatasi segala macam masalah yang ada dihadapan mereka dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri . Mereka merasa tidak perlu melibatkan Allah dalam urusan mereka. Mereka menganggap menyediakan waktu untuk berdialog dan berdzikir mengingat Allah hanya merupakan usaha sia- sia dan membuang waktu percuma.
Sebenarnya tidak demikian. Justru dzikir mengingat Allah itulah hal yang paling penting dan utama dalam kehidupan kita. Allah telah memerintahkan kita untuk selalu ingat kepadaNya dengan sebanyak banyaknya dimanapun kita berada, ketika berdiri, duduk dan berbaring. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa ayat Qur’an sebagai berikut:
Al Ahzab 41-42al-ahzab-41-42
41- Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42- Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Ahzab 41-42)

An Nisa 103
an-nisa-103
103- Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. ….(An Nisa 103)

Dalam surat Adzariyat ayat 56 bahkan Allah menjelaskan bahwa ia tidak menjadikan Jin dan manusia melainkan untuk beribadah dan menyembahNya.
Syetan telah memperdaya manusia sehingga mereka lupa kepada Allah, mereka hanya sibuk memperturutkan keinginan hawa nafsunya. Hati dan fikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah kehidupan dunia, mereka lupa untuk berdzikir mengingat Allah sepanjang waktu. Padahal dalam Al Qur’an Allah berulang ulang mengingatkan :al-araaf-205-revJanganlah kalian termasuk orang yang lalai (dari mengingat Allah) (Al- A’raaf 205)
Beberapa cara mengingat Allah
Berdzikir mengingat Allah merupakan masalah utama dan sangat penting dalam kehidupan kita sebagai manusia. Orang yang meremehkan dan melalaikan masalah dzikir mengingat Allah , maka Allahpun akan melupakannya dan membiarkannya bergelimang dalam kesulitan dan berbagai kerumitan hidup didunia maupun akhirat. Sebaliknya orang yang selalu ingat padaNya dan tidak pernah lupa berdzikir mengingat Allah maka Allah akan memperhatikan semua hajat kebutuhannya dan melapangkan hidupnya didunia maupun akhirat.
Ada beberapa cara berdzikir mengingat Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an. Pertama berdzikir mengingat Allah dengan lidah atau lisan, kedua berdzikir mengingat Allah dengan anggota tubuh dan yang ketiga berdzikir mengingat Allah didalam hati dan fikiran.
Dzikir dengan lisan
Dzikir dengan lisan dilakukan dengan banyak menyebut dan mengagungkan nama Allah dengan ucapan lisan sebagaimana disebutkan dalam surat Al Isra ayat 110 :
al-israak-110110- Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Al Israak 110)
Kegiatan dzikir dengan lisan ini bisa dilakukan seorang diri atau berjamaah. Misalnya duduk berdzikir membaca tahmid, tasbih, tahlil , asmaulhusna atau membaca Qur’an seorang diri . Bisa juga membaca tahlil, tahmid, tasbih atau asmaulhusna secara berjamaah. Membaca kalimat takbir ketika hari Raya idhul fitri atau idhul adha termasuk pada kegiatan dzikir berjamaah.
Dzikir dengan aggota tubuh
Dzikir dengan aggota tubuh dilakukan dengan berdiri , duduk atau berbaring , sebagaiman disebutkan dalam surat An Nisa ayat 103 diatas :
103- Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. ….(An Nisa 103)
Pelaksanaan shalat , tawaf dan sa’i termasuk dzikir dengan anggota tubuh. Dzikir dilakukan dengan menggerakkan anggota tubuh untuk berdiri, rukuk, sujud , berjalan atau berlari . Ketika berdiri , rukuk atau sujud diringi dengan membaca doa , ayat Qur’an atau kalimat dzikir yang merupakan pujian atau mengagungkan nama Allah. Demikian pula ketika tawaf, sya’i atau berjalan menggerakan tangan dan kaki diikuti dengan membaca kalimat tasbih, tahmid, tahlil istighfar atau membaca ayat Al Qur’an.
Shalat merupakan pelaksanaan dzikir dengan seluruh anggota tubuh sebagaiman disebutkan dalam surat Thaha 14
thaha-1414- Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Thaha 14)
Dalam shalat kita menggerakan anggota tubuh melakukan gerakan rukuk, sujud duduk, dan berdiri sambil membaca doa dan ayat Qur’an.
Dzikir didalam hati dan fikiran
Dzikir didalam hati atau fikiran merupakan dzikir bathin yang tidak dapat diamati secara fisik. Kegiatan ini dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja ketika berdiri duduk dan berbaring tanpa diketahui oleh orang lain. Dzikir dengan fikiran disebutkan dalam surat Ali Imran 190-191
ali-imran-190-191
190- Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191- (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.                     (Ali Imran 190-191)
Pelaksanaan dzikir dengan hati atau qolbu disebutkan dalam surat al A’Raaf ayat 205 sebagai berikut :
al-araaf-205
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.             (Al A’raaf 205)
Dzikir bathin ini umumnya dilakukan seorang diri , karena kegiatannya tidak bisa diikuti atau diamati oleh orang lain. Duduk tafakur seorang diri atau I’tikaf di masjid termasuk kedalam kegiatan ini.
Usahakan dalam kegiatan sehari hari kita tetap melaksanakan berbagai kegiatan dzikir seperti tersebut diatas . Insya Allah hidup jadi aman , nyaman dan mudah.
Dzikir ditengah kesibukan sehari hari
Shalat adalah kegiatan dzikir yang telah ditetapkan waktu dan tata caranya minimal kita melakukan kegiatan shalat lima kali dalam sehari semalam. Diluar shalat yang lima waktu itu kita bisa melaksanakan kegiatan dzikir lainnya, seperti dzikir bathin atau dzikir lisan. Diluar kegiatan shalat usahakan tetap menjaga komunikasi dan hubungan dengan Allah setiap saat. Rasulullah banyak mengajarkan doa doa yang dianjurkan dibaca setiap hari , seperti ketika bangun tidur, mau ke kamar mandi, doa sebelum dan sesudah makan, doa keluar rumah , doa dalam perjalanan dan lain sebagainya. Semua doa itu merupakan kalimat dzikir yang menjaga hubungan dan komunikasi kita dengan Allah.
Rasulullah menyatakan keutamaan berdzikir mengingat Allah ini dalam beberapa hadist berikut ini :
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda , Allah swt berfirman : “ Aku tergantung pada persangkaan hambaKu. Dan Aku bersamanya jika ia mengingat Aku. Jika dia mengingatKu dalam hatinya, Akupun mengingatnya dalam HatiKu. Jika ia mengingatKu dalam suatu majelis, Akupun mengingatnya dalam suatu majelis yang lebih baik dari mereka. Dan jika ia mendekatiKu sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Dan Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia mendekatiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari (HR Bukhari, Muslim , Ahmad)
Dari Abu Musa ra Nabi saw bersabda “ Perumpamaan orang orang yang berdzikir kepada Allah dan orang orang yang tidak berdzikir kepada Allah, seperti orang yang hidup dan orang yang mati (HR Bukhari, Muslim, Baihaqi).
Dari Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda “ Ahli syurga tidak akan menyesali apapun (didunia ini) kecuali atas waktu yang telah mereka lalui tanpa dzikrullah didalamnya “ (HR Thabrani, Baihaqi)
Bagaimana mungkin kita bisa berdzikir mengingat Allah ditengah kesibukan kita sehari hari ?, jika kita mau tidak ada kesulitan untuk itu. Kendala utamanya hanyalah rasa malas dan tidak istiqomah. Kegiatan berdzikir sudah kita mulai sesaat ketika kita bangun tidur. Perhatikan ketika bangun dari tidur apa yang kita ingat lebih dahulu. Kebanyakan orang ketika bangun tidur yang terbayang didalam fikirannya adalah kegiatan bisnis , pria atau wanita idamannya serta beban pekerjaan yang sedang dihadapinya.
Lain halnya dengan para pencinta dzikir, sesaat ketika bangun tidur yang diingat adalah Allah. Ketika baru bangun dari tidur ia akan mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah : Alhamdulillahilladzi ahyyana ba’da maa amatana wa ilahin nusyur…segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan (membangunkan) kami dari mati (tidur) kami , dan kepadanyalah kami kembali. Selanjutnya ia mengucapkan istighfar dengan sebanyak banyaknya.
Selanjutnya ia akan memulai setiap gerak dan langkah yang dilakukan dengan menyebut nama Allah didalam hati dan fikiran. Ada 99 asmaulhusna , sebutlah mana saja nama yang disukai, ya Rahman, ya Rahim , ya Malik, ya Quddus, ya Jabbar, ya Aziz, ya Hayyu, ya Qoyyum dan lain sebagainya. Sepanjang jalan ketika berjalan kaki , ketika duduk atau mengemudikan kendaraan, memasuki halaman kantor , memulai duduk di tempat kerja ia tidak putus menyebut nama Allah didalam hati. Insya Allah selama itu Allahpun akan menyebut namanya dihadapan majelis yang lebih besar. Allah selalu memperhatikan hajat dan kebutuhan hambaNya selama ia ingat padaNya. Dia selalu siap menolong hambaNya mengatasi berbagai kesulitan yang datang. Hingga berbagai masalah kehidupan bisa dilalui dengan mudah . Allah menjelaskan semua itu dalam surat Al Baqarah ayat 152
al-baqarah-152152- Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku. (Al Baqarah 152)
Apa saja masalah yang anda hadapi jangan lupa mengkomunikasikannya dengan Allah. Ketika akan memulai pembicaraan bisnis dengan seseorang , mengikuti tender, mengajukan penawaran barang atau jasa pada klien, mengajukan proposal dan lain sebagainya jangan lupa mohon bimbingan dan petunjuk kepada Allah. Ucapkan tasbih, tahlil , tahmid , istighfar atau asmaulhusna didalam hati terus menerus.
Ketika mendapat hal yang menggembirakan hendaklah bersyukur padaNya, sampaikan pujian pada Allah atas kenikmatan dan kegembiraan yang didapat. . Ketika mendapat ancaman atau mengalami kejadian yang buruk dan membahayakan diri berlindunglah pada Allah. Insya Allah semua kegiatan tersebut sudah termasuk dalam kegiatan dzikir harian
Demikianlah aktifitas dzikir harian yang sebenarnya mudah dilakukan namun sedikit sekali orang yang mengerjakannya. Mungkin karena tidak tahu , kalaupun sudah tahu penyakit malas sering menjadi kendala utama untuk melakukan kegiatan dzikir tersebut.
Mari hidupkan hati dengan banyak berdzikir pada Allah dimanapun berada ketika berdiri, duduk dan berbaring, insya Allah semua urusan menjadi mudah dan ringan karena Allah selalu ikut terlibat dalam semua urusan yang kita kerjakan.
Orang yang jauh dari dzikir mengingat Allah dijamin hidupnya selalu dirudung berbagai masalah dan kesulitan. Hati tidak pernah nyaman dan tentram, hidup selalu gelisah dan tertekan,berbagai masalah dan kesulitan bertubi-tubi datang menghimpit. Di dunia hidup sulit diakhiratpun lebih sulit lagi.
Sebaliknya orang yang selalu berdzikir dalam kegiatan sehari hari dijamin oleh Allah hatinya menjadi tenang nyaman dan tentram sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’d 28
ar-rad-28
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar Ra’d 28)

Arti Sebuah Kehidupan di Dunia


Wahai saudaraku, sudahkan anda memikirkan makna kehidupan kita di dunia ini? Dari mana asal kita? Siapakah yang menciptakan kita, dan mengapa Dia menciptakan kita? dan kemanakah kita setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan- pertanyaan in harus ada didalam benakmu, bahkan didalam benak setiap insan.
Mayoritas manusia tidak berusaha untuk mencari jawaban darinya, sehingga seluruh perhatiannya dalam kehidupan ini tertuju pada makanan, minuman, dan pelampiasan syahwat. Banyak pula dari mereka yang tersesat dari jawaban yang sebenarnya, sehingga dia tidak berjalan ke arah yang benar yang dapat memberi jawaban tersebut. Kedua kelompok ini pada hakekatnya adalah orang- orang yang telah mati yang berjalan di permukaan bumi, sebagaimana halnya Allah Ta’ala -Maha Pencipta- menyifati keadaan mereka:
“… mereka memiliki hati yang tidak mampu memahami, memiliki mata yang tidak dapat melihat, memiliki telinga yang tidak dapat mendengar, mereka seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat, mereka itulah orang- orang yang lalai.”
(Al-A’raf:179)
Jika demikian, maka dalam tulisan ini kita berusaha untuk keluar dari kelalaian, agar kita dapat berjalan dalam kehidupan ini diatas hidayah dan cahaya , diatas jalan yang lurus yang telah dijelaskan oleh Allah Azza- Wajalla Pencipta langit dan bumi ini kepada kita, yaitu agama yang Allah Ta’ala tidak menerima sebuah keyakinan apapun dari makhluk-Nya kecuali agama tersebut. Hanya Dia-lah yang akan memberi kepadamu jawaban yang memuaskan atas pertanyaan- pertanyaan ini, sebab hanya agama-Nya yang merupakan agama yang  murni yang datang dari sisi Allah Subhanahu Wa-Ta’ala. Allah berfirman:
“Apakah mereka tercipta secara tiba- tiba tanpa sesuatu, atau apakah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (QS.At-Thur:35)
Juga firman-Nya:
“(Allah) Rabb kami yang telah menciptakan segala sesuatu lalu Dia-lah yang memberi hidayah.”
(QS.Thaha:50)
Demikian pula firman-Nya:
“Katakanlah: siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Dan siapakah yang memberimu pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeuarkan yang hidup dari kematian, dan mengeluarkan yang mati dari kehidupan, dan siapakah yang mengurus seluruh perkara (dijagad raya)?, Maka niscaya mereka pasti mengatakan: Allah, lalu katakanlah: tidakkah kalian bertakwa?”
(Yunus: 31)
Dengan penjelasan ini, Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan pertama: dari mana asal kita? Dan siapakah yang menciptakan kita?
Pada hakekatnya, seorang manusia tidak mungkin dapat menghindar dari keyakinan ini, sebab kaum musyrikin pun tidak mampu menghindar dari jawaban bahwa Allah Ta’ala sebagai penciptanya. Namun apakah sekedar meyakini hal ini sudah cukup ? tentu tidak, sebab Allah Azza Wajalla berfirman:
“..dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(Adz-Dzariyat:56)
Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah semata sebagai pencipta, yang mengurusi seluruh jagad raya, yang menghidupkan, yang mematikan, dan kekuasaan yang sempurna bagi setiap apa yang ada di alam ini, maka pernyataan ini haruslah memberi pengaruh pada dirimu dengan menjadikan ibadah yang benar hanya untuk Allah Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal apapun.
Karena tujuan ibadah inilah ditegakkannya langit dan bumi, dan karena tujuan inilah kita diciptakan di alam ini, dan karena hal inilah para rasul diutus, dan kitab- kitab suci diturunkan, lalu setelah itu diadakanlah proses hisab, pahala dan dosa, lalu setelah itu surga dan neraka.
Apakah setelah kita mengetahui tujuan hidup ini, berarti seluruh waktu kita hanya diluangkan di masjid untuk melakukan ruku dan sujud? Lalu membiarkan manusia dengan berbagai aktifitas kehidupannya?
Pemahaman Yang Benar Tentang Ibadah
Ini bukanlah pemahaman yang benar tentang  makna ibadah, namun yang dimaksud ibadah adalah mengerjakan setiap apa saja yang dicintai Allah Azza Wajalla dan diridhai-Nya, dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya, sehingga apa yang kamu pelajari, yang kamu amalkan, ketika engkau berada di rumah, di jalan, atau di masjid, dan hubunganmu dengan sesama manusia, engkau senantiasa mengharapkan wajah Allah dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan kedua syarat ini (ikhlas dan mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,pen), seluruh aktifitas kehidupanmu akan bernilai ibadah karena Allah .
Maka yang dimaksud ibadah adalah  bentuk ketaatan kepada-Nya, ketundukan, dan sikap berserah diri terhadap perintah- perintah Allah, seperti shalat, puasa, haji dan zakat, demikian pula rasa cinta, takut, berharap, ikhlas hanya untuk Allah semata, demikian pula bersyukur, bersabar, ridha dan rindu hanya kepada Allah Ta’ala, demikian pula berdoa  , merendahkan dan menghinakan diri , serta khusyu’ kepada Allah Azza Wajalla semata, memakan yang halal dan meninggalkan yang haram, berbakti kepada kedua orang tua, berakhlak yang baik, menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orang yang lebih muda dan orang miskin, tersenyum pada wajah saudaramu muslim, jujur dalam berucap, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan perbuatan menipu, menjauhi riba dan suap serta seluruh perkara yang diharamkan, menundukkan pandangan, memelihara kemaluan, berhijab dan menjaga kehormatan diri, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, berdakwah menuju jalan Allah dan berjihad dijalan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: sesunguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan yang demikianlah aku diperintahkan, dan aku orang yang pertama berserah diri.”
(QS. Al-An’am:162-163)
Dan firman-Nya:
“Barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh.”
(QS. Al-Baqarah:256)
Tidak akan sempurna ibadah seseorang hingga ia mengingkari thagut sebagaimana yang diberitakan Allah Subahanahu WaTa’ala, dengan inilah Allah mengutus seluruh para rasul:
“”Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk berseru: sembahlah hanya kepada Allah dan jauhilah thagut.”
(QS.A-Nahl:36)
Yang dimaksud thagut adalah setiap yang melampaui batasannya sebagai hamba lalu menisbatkan kepada dirinya satu hak atau sifat yang tidak berhak dimiliki kecuali Allah Ta’ala. Setan adalah pemimpin para thagut yang mengajak manusia untuk beribadah kepada selain Allah dan taat kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
“Bukankah Aku telah perintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam agar jangan kalian menyembah setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS.Yasin: 10)
Beribadah kepada setan adalah taat kepada apa yang diperintahkannya berupa kekufuran kepada Allah Ta’ala.
Termasuk thagut adalah setiap yang diikuti, atau ditaati, atau yang menetapkan hukum tidak diatas petunjuk  dari Allah dan syariat-Nya. Demikian pula setiap yang menganggap dirinya mengetahui urusan gaib seperti para tukang ramal, ahli nujum dan para dukun.
Allah berfirman:
“Katakanlah: tidak ada yang mengetahui perkara gaib yang ada di langit dan d bumi melainkan Allah.”
(QS.An-Naml:65)
Demikian pula orang yang menyangka dirinya mampu mendatangkan manfaat dan mudarat dari selain Allah.
Makna mengingkari thagut adalah engkau meyakini dengan hatimu tentang kebatilan menyembah para thagut tersebut, dan kebatilan apa yang mereka sandarkan kepada diri- diri mereka dari hak- hak Allah , lalu engkau menjadikan Rabb-mu semata yang disembah. Lalu engkau berupaya untuk menghilangkan bentuk ibadah kepada para thagut tersebut dengan segala upaya.
Syirik Dan Pembagiannya
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar.” (QS.Luqman:13)
Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni Allah. Lalu apakah syirik itu?
Syirik adalah seseorang memalingkan satu jenis ibadah dari ibadah apa saja kepada selain Allah , meskipun itu seorang malaikat yang dekat dari-Nya ataukah seorang nabi yang diutus, atau seorang wali yang saleh, seorang alim, seorang ahli ibadah, seorang pemimpin, batu, pohon, matahari, bulan, patung berhala, hawa nafsu yang dituruti, semua ini banyak dari kalangan manusia yang menjadikannya sebagai sekutu bersama Rabb-nya.
Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah, dan beristighatsah (memohon pertolongan) kepadanya, padahal makhluk itu tidak ada dihadapannya ataukah dia telah mati, lalu ia meminta kepadanya pertolongan, dan meyakini bahwa makhluk itu dapat memberi manfaat dan mudarat, menyembuhkan dan mendatangkan penyakit, dapat menolak sesuatu yang gaib, dan memberi pertoloongan kepada yang terzalimi, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah Yang Maha Agung. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: berdoalah kalian kepada yang kalian sangka (mereka mampu memberi manfaat) dari selain Allah, mereka tidak memiliki kekuatan meskipun seberat semut terhada apa yang ada di langit dan di bumi, mereka tidaklah menjadi sekutu pada kedua alam tersebut dan tidaklah menjadi penolong. Tidaklah bermanfaat syafaat disisi-Nya kecuali bagi siapa yang diizinkan (Allah).”
(QS.Saba:22-23)
Dan tidak pula dapat memberi manfaat ketika perbuatan mereka tersebut dinamakan syafaat  atau tawassul, dan ini merupakan hujjah kaum musyrikin ketika mereka berkata:
“… Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan tujuan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.”
(QS.Zumar:3)
Allah Ta’ala juga berfirman tentang mereka:
“mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat memudaratkan dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: mereka (yang disembah) ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.”
(QS.Yunus:17)
Termasuk perbuatan syirik: apa yang banyak dilakukan oleh manusia seperti bernazar untuk selain Allah, menyembelih untuk selain-Nya, seperti yang dilakukan di sisi kuburan orang- orang yang saleh dan selain mereka. Allah Ta’ala berfirman:
“Shalatlah hanya untuk Allah dan menyembelih (hanya untuk-Nya).”
(QS.Al-Kautsar:2)
Demikian pula orang yang shalat dan sujud kepada selain Allah, sungguh dia telah berbuat syirik, demikian pula yang menyembelih kepada selain Allah , sungguh ia telah berbuat syrik. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperingatkan umatnya  dari menjadikan kuburan itu sebagai masjid, agar manusia tidak terjatuh dalam kesyirikan dengan sebab sikap berlebih- lebihan terhadap orang- orang yang saleh. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburan itu sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian darinya.”
(HR.Muslim)
Termasuk syirik kecil: bersumpah dengan selain Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam bersabda:
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah berbuat syirik.”
(Sahih diriwayatkan oleh Ahmad)
Maka wahai saudaraku, janganlah engkau bersumpah dengan mengatakan: demi ayahku, demi kemuliaan, demi nabi, atau demi ka’bah.
(diterjemahkan dari kitab: ma’luumaat muhimmahminad diin, karya Muhammad Jamil Zainu,hal:4-9)

Motivation 'apa itu kehidupan?'

Hidup ini bukan tentang mengumpulkan nilai. Bukan tentang berapa banyak orang yang meneleponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu, bekas pacarmu, atau orang yang belum kamu pacari. Bukan tentang siapa yang telah kamu cium, olahraga apa yang kamu mainkan,atau pemuda atau gadis mana yang menyukaimu. Bukan tentang sepatumu atau warna kulitmu atau tempat tinggalmu atau sekolahmu. Bahkan, juga bukan tentang nilai -nilai ujianmu,uang, baju, atu perguruan tinggi yang menerimamu atau yang tidak menerimamu. Hidup ini bukan tentang apakah kau memiliki banyak teman, atau apakah kau seorang diri, dan bukan tentang apakah kamu diterima atau tidakditerima oleh lingkunganmu. Hidup bukanlah tentang hal itu.
Namun, hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti. Tentang bagaimana persaanmu tentang dirimu sendiri. Tentang kepercayaan, kebahagiaan, dan welas asih. Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, mengatasi rasa tak peduli, dan membina kepercayaan. Tentang apa yang kaukatakan dan apa yang kau maksudkan. Tentang menghargai  orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya. Dan yang terpenting, hidup ini adalah tentang memilih menggunakan hidupmu untuk menyentuh orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Hidup adalah tentang pilihan - pilihan itu...

ARTI SEBUAH KEHIDUPAN UNTUK “DIA”



Dia lahir di tengah keluarga sederhana, dia menjalani hidupnya dengan sabar, dan dia terlalu polos untuk merasakan pahitnya dunia, kehidupan tak seindah yang dia fikirkan, dari mempunyai lingkungan yang selalu menfitnah, tapi dia selalu tegar, karna di sampingnya ada selslu ayahnya, ayah?? Dia mengangap ayahnya adalah malaikat yang harus menjaga dirinya sampai ia ajalnya dating, ekiunya biasa , tak pinter banget dan tak bodoh sekali, asmara?? Tak seindah teman”nya, dia mempunyai kekasih yang sangat membataskan aktifitasnya, pada saat itu, umurnya baru 15 th(SMP). Ibu? Ibunya wanita yang hebat, tak pernah ingin mengalah, tak ingin terkalahkan, selalu tegar, terkecuali “dia” sangat bertolak belakang, selalu mau tersakiti demi kebahagiaan orang lain, saudara? “Dia” mempunyai saudara banyak,”Dia adlah anak terahir(bungsu) penuh kehangatan, tapi terkadang menyala, hal itu pasti juga biasa di kehidupan kalian, selalu terjadi konflik
Sahabat? Pada waktu SMP “Dia” mempunyai sahabat” yang sangat menyayanginya, tapi tak semulus di fikirkan, “DIa” besahabat 5 orang, “dia” selalu di dengarkan oleh sahabat”nya, karna dya antara sahabat”nya, “dia” lah yang paling dewasa cara berfikir, salah satu sahabatnya ternyata seorang penghianat, “Dia” tak pernh berfikran negative,apalagi kepada sahabtnya sendiri, tapi ternyata? Dengan selalu “dia” berfikir sahabatnya tak akan berhianat malah berhianat secara terang”ngan, tapi, begitu indah hati seorang “Dia” iya tak pernah dendam walau dia merasa tersakiti, tapi kisah” itu sangat indah baginya, karna, “Dia berfikir, semua pebedaan itukah yang akan membuatnya semakin mengerti arti dunia. Dari sahabat yang ingin menang sendiri, sahabat yang keras kepala, sahabat yang pashion nable, samapai mempunyai sahabt yang selalu mengalah, sanagt bnyak pelajaran hidup yang telah ia temui.TUNGGU CERITA SELANJUTNYA YAH!!
 Tak sampai sana , ayah “Dia” sudah lama sakit”tan, sampai akhirnyapun sesuatu yang tak pernah “Dia” inginkan pun terjadi, pda saat kelas 3 SMP tgl 24 januari 2011 ayahnya meninggalkannya untuk selamanya,,. Dalam umur yang masih didikan seorang ayah akan mencari jati dirinya, malah membuatnya kehilangan jati dirinya, “Dia” tak kuasa menahan tangis yang ntah dari mana datangnya, “Dia” sangat merasa kehilangan, sangat merasa terpukul dengan kepergian ayahnya, ayah yang belum sempat  di buatnya menangis bahagia membuatnya semakin terpukul! Saat itu dia berfikir bahwa allah tak adil. Dia selalu menangis, dia merasa sudah tak ada lagi yang bisa di harapkan di dunia ini, beberapa tahun kemudian pun dia bisa berfikir untuk mungkin itu yang terbaik untuk kehidupannya,cobaan? Dari masalah kecil sampai besarpun iya jalani, walau dya tau itu sangat sakit dya selalu jalani tertatih tatih, namun iya tak sekuat dulu, dya tak seperkasa dulu dya mersa kehilangan kaki untuk melangkah ketika ayahnya pergi,, tap dy kan selalu mencoba untuk selali berthan demi masa depannya, terkadang dya menangis dan terus menangis dya menyangkan hidhup ini, terkadang putus asa itu dating tapi selalu dya tepis dengan kebahagiaan yang pasti akan dating pada hidupnya, dunia seperti tak berfihak kepadanya, yang dya harus melewati kelemahannya dan menerima kekurangannya, untuk seorang “DYA” berjuanglah saya yakin kau pasti bias untuk melewati rintangan ini terus berjuangg dan selalu semangat! Jangan pernah merasa sebdiri walau kau sedang sendiri karna kau masih mempunyai ALLAH dya, dia akan menjadi pengganti ayahmu, jangan pernah menangis lagi buatlah mala mini menjadi malam terahir tangisanmu, sudahi tangisam itu, jika kau merasa tak ada sahabat terbaikmu maka ingatlah ALLAH adalah sahabat terbaikmu, selalu bertahan di tengah kepedihan itu, buat dirimu bahagia di dunia ini, terlalu indah air mata itu untuk kau buang,, lupakan masa lalu yang pernah membuatmu kecewa.           

Menggapai Ridha Allah dengan Berbakti Kepada Orang Tua


    Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat pentingnya masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini perlu dikaji secara khusus.


Perintah Berbakti Kepada Orangtua
Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah AllahTa’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Allah menggandengkan antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua: “Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisaa : 36).
    Perintah berbakti bahkan diseiringkan dengan perintah untuk mengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat.
  2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir:
    “Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)
  3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah seutama-utama jihad.
    Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (H.R Bukhari-Muslim)
  4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (HR.  Muslim)
  5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi)
  6. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah.
    Dalam suatu riwayat dikisahkan ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (HR. Bukhari-Muslim)
  7. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (HR. Bukhari -Muslim)
    Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya.
  8. Doa orang tua adalah mustajab.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.” (HR. Bukhari -Muslim)
  9. Jasa orang tua, takkan  terbalas.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.” (HR. Muslim)
  10. Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” (HR. Bukhari-Muslim)
    Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua.” (HR. Al-Hakim, Shahih oleh Al-Albani)
    Alhamdulillah.. Kesemua bukti tersebut –dan masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya, termasuk konsensus umat Islam terhadap urgensi berbakti kepada orang tua yang sama sekali tidak boleh terabaikan–, kesemuanya, menunjukkan betapa bakti kepada orang tua adalah kebajikan maha penting, bahkan yang terpenting dari sekian banyak perbuatan baik yang diperuntukkan terhadap sesama makhluk ciptaan Allah. Sedemikian pentingnya, hingga riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya, bertaburan dalam banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahkan juga dalam Al-Qur’an.
Memuliakan Orang Tua
Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Bahkan Islam sudah jauh-jauh hari -14 abad yang silam- sudah langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
“Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (Al-Ahqaaf : 15)
Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka. (Tafsir Al-Quranul Azhiim IV : 59)
Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!!
Saudaraku, Tunjukkanlah Baktimu pada Orang Tuamu??
Orang tua kita adalah manusia yang paling berhak mendapatkan dan merasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk ‘mengejawantahkan’ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal. Beberapa hal berikut, adalah langkah-langkah dan tindakan praktis yang memang sudah ‘seharusnya’ kita lakukan, bila kita ingin disebut ‘telah berbuat baik’ kepada orang tua:
  1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.
  2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.
  3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka.
  4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.
  5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.
  6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.
  7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman, “Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215)
  8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.
  9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an,“Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)
    Semua hal di atas bukanlah ‘segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata. Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, apalagi di waktu kita kecil.
Jangan Mendurhakainya!
Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang ‘kewajiban kita’ terhadap sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal.
Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan.. (Fathul Baari I : 420)
Seringkali seorang anak membela diri saat dikecam sebagai anak yang durhaka terhadap ibunya, dengan pelbagai alasan yang dibuat-buat, atau sekadar mengalihkan perhatian kepada soal lain. ‘Seharusnya kan orang tua itu lebih tahu,’ ‘Seharusnya seorang ibu mengerti perasaan anak,’ ‘Seharusnya seorang ibu itu lebih bijaksana daripada anaknya,’ ‘Seharusnya seorang ibu tidak boleh memaksakan kehendak,’ dan berbagai alasan kosong lainnya. Yah, taruhlah, dalam suatu kasus, si ibu memang melakukan kesalahan, dengan memaksakan kehendaknya, atau bersikap kurang bijaksana. Namun saat si anak membantah perintah atau larangan ibunya, apalagi dia mengerti bahwa yang dikehendaki oleh ibunya itu adalah baik, meski kurang tepat, tidak pelak lagi, si anak telah berbuat durhaka. Di sinilah seharusnya ‘kunci kesabaran’ dan tingkat ‘kesadaran’ terhadap syariat Allah, juga penghormatan terhadap orang tua, dapat menggeret seseorang mengambil jalan mengalah, meskipun ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk harta, dan juga cita-citanya. Selama hal itu tidak bertentangan dengan Syariat Agama.
Ketika Orang Tua Telah Berusia Senja.
Pada saatnya, usia juga yang membatasi kepawaian seorang ibu mengasuh anaknya. Kasih ibu, memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu harus melalui juga masa-masa yang belum pernah dibayangkan selama ini. Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menstabilkan nada yang keluar. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri. Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan. (Lihat Q.S Al-Isra : 23-24)
Saat usia semakin tua, bisa jadi kepekaan seorang ibu bertambah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, yang bila itu diucapkan seorang anak di waktu mudanya, tidak akan diperdulikan sama sekali. Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang demikian santun, agar seorang anak membiasakan diri berbicara dan bersikap secara mulai, santun dan terpuji, terhadap kedua orang tuanya, terutama sekali ibunya.
Dan Ketika Tiba Saatnya Orang Tua Kita Meninggalkan Kita, Apakah yang Kita Lakukan??
Sesungguhnya ada banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud cinta kasih kita pada Orangtua yang telah meninggalkan kita, di antaranya :
  1. Meminta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat dur-haka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup.
  2. Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
  3. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
  4. Membayarkan hutang-hutangnya.
  5. Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
  6. Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.

Belajar Mencintai Seseorang Yg Tdk Sempurna Dgn Cara Yg Sempurna




Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adaah kesempatan.
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Adasuatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil" Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak... Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna


 

Feedjit

Featured Posts

lihat lebih banyak animasi klub bergerak